
Dead Cockroach
Aku menikmati perjalanan beli majalah di suatu kios majalah sambil mencecap es krim coklat shake. Otakku penuh pikiran yang menusuk. Penyakit tidak sabarku sedang kumat dan mencoba berdamai dengan ketidaksabaran. Semua yang terjadi akhir-akhir ini, beberapa minggu lalu, beberapa bulan lalu, beberapa tahun lalu semuanya hiruk pikuk di pikiranku. Ada suka ada duka. Tapi aku merasa selama itu airmata tak pernah kering, selalu saja menangis. Kalau sering menangis, pertanda duka atau suka? Entahlah. Aku berjalan tertunduk. Terus memanjakan pikiran yang terbang ke mana-mana. Memanjakan saat mengapa aku menangis. Kadang aku tahu aku menangis, tapi aku tak tahu mengapa sedih. Sepertinya mata air di mataku memang tak akan pernah kering dan dia mudah jatuh tanpa ada alasan yang jelas.
Kemudian aku berhenti, memandang yang tergeletak di dekat kaki. Apa itu… berwarna cokelat…seperti rasa es krim ku ini…namun aku cepat tersadar. Aku terkejut melihat kematian di depan kakiku. Sebuah mayat! Mayat kecoa! Oh GOD! Kecoa mati saja sudah membuatku merinding, apalagi yang hidup! Apalagi yang hidup dan terbang-terbang menggoda kita untuk berlari menjauhinya. Hiiiiiyyyy…. Pertama kulihat satu kecoa yang tubuhnya hancur lebur, mungkin terlindas motor atau mobil. Lama-lama kecoanya banyak dan mati semua. Kupikir, pasti kemarin ada fogging alias penyemprotan nyamuk demam berdarah. Aku berlari sambil melompat-lompat menghindar mayat kecoa. Aduh, tiba-tiba kecoa itu semua jadi hidup dan mengejarku. Tidaaaakkk!! Aku berlari tunggang langgang, menjauh dari kecoa-kecoa itu. Aku berlari tanpa melihat ke belakang lagi. secepat-cepatnya… segila-gilanya (eh kayak iklan?!) tapi rasa penasaran mengancamku. Timbul satu pertanyaan, apa benar mereka masih mengejarku? (pertanyaan yang bodoh sebenarnya). Lalu aku berhenti berlari dan melihat ke belakang. Ada ribuan kecoa mengejarku! Ada yang kakinya pincang, ada yang sayapnya hancur, ada yang kumisnya patah. Mereka semua hidup dan mengejarku. Siap menerkam mangsa yang tadi tak sengaja menginjak-injak mereka. Aku berlari lagi, segera menjauh. O ooww… jalan buntu?! Ini tidak boleh dibiarkan. Aku menoleh ke sana ke mari berharap ada jalan lain. Dan, aku tersadar… gimana sih… orang jalan ini banyak tikungan, jalan depan tuh bukan jalan buntu tauuuukkk…. Sambil menoleh-noleh tak beraturan aku melihat ke arah kecoa-kecoa tadi mengejarku. Ternyata tak ada apa-apa. Semua kecoa itu tetap tergeletak tak bernyawa. Duuhh… segitunya gue sama kecoa, batinku. Hmm… rupanya tadi Allah sengaja mengalihkan perhatianku, tidak membiarkanku memanjakan pikiran yang sebenarnya tak perlu. Harusnya aku bersyukur dengan hidup yang kualami, walau ada suka ada duka, harus tetap bersyukur dan sabar. Saat ketidaksabaran melanda, harusnya aku lebih lebih lebih banyak bersyukur. Hmm.. emang susah siiiihh…. Tapi kini aku sedang berusaha berdamai dengan ketidaksabaran dan lebih banyak bersyukur… doain ya
ps : kenapa pula daku harus insert gambar kecoa mati itu

I’m new to this blog. Apologize for asking this though, but to OP…
Do you know if this can be true;
http://www.bluestickers.info/ringtones.php ?
it came off http://ringtonecarrier.com
Thanks
arrggghhh….. *kaburrr*
aku benci kecoa
( geliii… *lebay*
lebay diwajibkan kalo uda berhubungan dengan kecoa
Hai, Tyka.. met kenal ^_^