**Setelah cahaya menerpanya pertama kali. Ia tak pernah tahu mengapa tercipta. Setelah terbit sayup suara kumandang adzan. Ia tahu bahwa ada ayah yang mencintai .Setelah ia meneguk susu pertama kali. Ia tahu ada ibu yang menyayangi. Seloroh detik berguling. Menembus semak belukar berduri. Tepat jiwanya dewasa. Sudah kesekian kali ia bersinggah pada tanggal ini. Kian ia tahu mengapa tercipta, mengapa ada .Namun telah ribuan kali, jutaan kali ia menghadapkan garis-garis kedua tangannya ke atas. Demi memohon kepada-Mu. Maka tolong…. Tolonglah dia. Lindungilah dia. Ampunilah dia. Biarkan ia menikmati seteguk air nikmat-Mu. Tuntun lengannya pada bantal yang putih. Agar ia bisa bersandar saat ia lelah. Terus langkahnya mundur. Namun gantilah cahaya lilin dengan matahari. Agar busur yang membawa ibu nadinya terus melaju. Pada untaian benang hasil rajutan-Mu. Buatlah ia tetap tersenyum pada tanah kini. Dan pada tanah selanjutnya. Pada pijakan berikutnya. Bimbinglah dia untuk mengumpukan butiran-butiran salju. Yang hangat untuk menyelimutinya. Ya Allah, cintailah ia… PW, 16 Mar 05
—————————————————————————————————————————————————————–
