Feeds:
Posts
Comments

Kepada Segala Alam

Kemarin

Hari ini

Dan hari selanjutnya

Debu dan asap hitam tercampur

Menjadi senyawa yang terbang hingga lubang ozon membesar

Paru-paru tercemar

Menghirup yang tak seharusnya

Di sana

Terbaring pohon-pohon melintang

Akarnya bercerai dengan tanah

Daunnya menghitam dibakar api

Di sana

Beruang kutub jadi kanibal

Karena tak ada ikan di samudera

Akibat perburuan oleh manusia

Di sana

Sebuah danau di Cile mendadak hilang

Akibat peningkatan suhu udara

Perkosa saja bumi ini

Dengan defisit air, dengan borosnya listrik

Pedih derita menjajah bumi

Teramat panjang daftar tangisan alam

Mampukah kita seperti Jerman

Yang menyimpan karbondioksida dalam tanah?

Sanggupkah kita menggunakan ponsel berbahan jagung?

Atau haruskah kita gunakan pisang sebagai bahan baku bensin?

Kepada segala yang berklorofil

Dan segala yang bernafas bersama alam

Ada yang terarsir di sudut hati

Ampuni kami

Yang tak pahami airmatamu

140053_81860712 Suatu saat
Di atas kereta itu
Kita akan berbagi nasi dan lauk
Mengiring lampu gerbong padam tengah malam
Nanti akan kita lewati
Desa-desa gelap dan lampu temaram membelah malam
Dan saat itu
Kuingin menggenggam tanganmu
Untuk menjadi saksi atas
Langit yang bersekutu dengan matahari menjelma pagi
Dan membawa sekantong embun
Untuk disimpan anak-anak kita

Gara-Gara Kecoa

Dead Cockroach

Dead Cockroach

Aku menikmati perjalanan beli majalah di suatu kios majalah sambil mencecap es krim coklat shake. Otakku penuh pikiran yang menusuk. Penyakit tidak sabarku sedang kumat dan mencoba berdamai dengan ketidaksabaran. Semua yang terjadi akhir-akhir ini, beberapa minggu lalu, beberapa bulan lalu, beberapa tahun lalu semuanya hiruk pikuk di pikiranku. Ada suka ada duka. Tapi aku merasa selama itu airmata tak pernah kering, selalu saja menangis. Kalau sering menangis, pertanda duka atau suka? Entahlah. Aku berjalan tertunduk. Terus memanjakan pikiran yang terbang ke mana-mana. Memanjakan saat mengapa aku menangis. Kadang aku tahu aku menangis, tapi aku tak tahu mengapa sedih. Sepertinya mata air di mataku memang tak akan pernah kering dan dia mudah jatuh tanpa ada alasan yang jelas.

Kemudian aku berhenti, memandang yang tergeletak di dekat kaki. Apa itu… berwarna cokelat…seperti rasa es krim ku ini…namun aku cepat tersadar. Aku terkejut melihat kematian di depan kakiku. Sebuah mayat! Mayat kecoa! Oh GOD! Kecoa mati saja sudah membuatku merinding, apalagi yang hidup! Apalagi yang hidup dan terbang-terbang menggoda kita untuk berlari menjauhinya. Hiiiiiyyyy…. Pertama kulihat satu kecoa yang tubuhnya hancur lebur, mungkin terlindas motor atau mobil. Lama-lama kecoanya banyak dan mati semua. Kupikir, pasti kemarin ada fogging alias penyemprotan nyamuk demam berdarah. Aku berlari sambil melompat-lompat menghindar mayat kecoa. Aduh, tiba-tiba kecoa itu semua jadi hidup dan mengejarku. Tidaaaakkk!! Aku berlari tunggang langgang, menjauh dari kecoa-kecoa itu. Aku berlari tanpa melihat ke belakang lagi. secepat-cepatnya… segila-gilanya (eh kayak iklan?!) tapi rasa penasaran mengancamku. Timbul satu pertanyaan, apa benar mereka masih mengejarku? (pertanyaan yang bodoh sebenarnya). Lalu aku berhenti berlari dan melihat ke belakang. Ada ribuan kecoa mengejarku! Ada yang kakinya pincang, ada yang sayapnya hancur, ada yang kumisnya patah. Mereka semua hidup dan mengejarku. Siap menerkam mangsa yang tadi tak sengaja menginjak-injak mereka. Aku berlari lagi, segera menjauh. O ooww… jalan buntu?! Ini tidak boleh dibiarkan. Aku menoleh ke sana ke mari berharap ada jalan lain. Dan, aku tersadar… gimana sih… orang jalan ini banyak tikungan, jalan depan tuh bukan jalan buntu tauuuukkk…. Sambil menoleh-noleh tak beraturan aku melihat ke arah kecoa-kecoa tadi mengejarku. Ternyata tak ada apa-apa. Semua kecoa itu tetap tergeletak tak bernyawa. Duuhh… segitunya gue sama kecoa, batinku. Hmm… rupanya tadi Allah sengaja mengalihkan perhatianku, tidak membiarkanku memanjakan pikiran yang sebenarnya tak perlu. Harusnya aku bersyukur dengan hidup yang kualami, walau ada suka ada duka, harus tetap bersyukur dan sabar. Saat ketidaksabaran melanda, harusnya aku lebih lebih lebih banyak bersyukur. Hmm.. emang susah siiiihh…. Tapi kini aku sedang berusaha berdamai dengan ketidaksabaran dan lebih banyak bersyukur… doain ya

ps : kenapa pula daku harus insert gambar kecoa mati itu

SBY, Menurutku

Sebenarnya menurut gue, Pemilu 5 tahun sekali itu rasanya sebentar banget, khususnya saat negara lagi gak karuan kaya gini. Butuh waktu bertahun-tahun untuk nyembuhin Indonesia. SBY lagi masa-masanya menjalankan pembuktian yang dijanjikannya dulu. Dan menurut gue, program-program beliau cukup terkonsep dan baik. Kalo Pilpres nanti bukan SBY lagi, gue khawatir semuanya akan dari nol lagi, karena pastinya presiden terpilih akan menjalankan program-programnya dibanding meneruskan program yang sudah berjalan. Dan entah kenapa kok gue meragukan Megawati ya? karena kekharismaan dia masih seputar PDIP bukan seluruh masyarakat indonesia serta masih dibawah bayang-bayang Soekarno

Kembali Gerimis

Kembali butir-butir itu berjatuhan
Begitu dramatis
Racun kehilangan melepuh menjadi sebisik gerimis
Luntur sudah mantra kesedihanku
Kembali butir-butir itu membawa pesan damai
Ke hatiku

Menulis Jejak

29782721_76961160Suatu saat aku bermimpi

Pada gerimis itu

Aku bertamu ke hatimu

Kadang menulis cinta di situ

Kadang temani gulana yang sendiri

Menyerap sedihmu, dan berikan kebahagiaanku

 

Kini, waktu telah mengijinkan kita bersatu

Tak ada lagi tangan kita yang saling melambai menyambut perpisahan kala senja

Ruang lengang di rumahku

Telah terisi aku dan kamu

Karena telah kita kumpulkan kayu-kayu kering

Untuk temani perjalanan kita

Menjadi tua, bersamamu…

 

Satu dari lusinan mimpi kita telah usai

Dan aku siap berlari mengejar mimpi-mimpi yang lain

Bersamamu…

Bersama jejak kaki kita…

 

*To Nucky & Mas Taufik : Semoga kalian grow old together yaa :)

Darah berserakan layaknya sampah, jalanan penuh tubuh yang telah kaku,  suasana mencekam dan ketakutan lahir terburu-buru, tanpa diundang. Kota telah mati, bangunan-bangunan telah menyatu dengan tanah. Nafas-nafas telah berkemas dan hilang dalam sekejap. Ada apa gerangan hai Palestina… mengapa kalian teramat dibenci, telah terlalu rumit konflik yang melilit tubuhmu. Kalian yang telah bersedia mati secara terpaksa, semoga Tuhan ringankan siksa kuburmu dan pendekkan perjalanan akhiratmu, supaya kelak kalian damai dan bahagia berada dalam pelukan Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan tak pernah tinggalkan kalian…

Wahai Allah yang Maha pandai membolak-balikkan hati manusia… Aku memohon sebagai orang awam… Berikanlah hidayah kepada mereka yang telah membumihanguskan Palestina… Amin

* Aku jadi teringat pasukan burung yang berbondong-bondong melempari pasukan tentara bergajah yang ingin menghancurkan Ka’bah, dan melempari tentara tersebut dengan batu-batu kecil, sehingga menjadikan mereka seperti daun yang dimakan ulat (Qur’an surat Al-Fiil). Akankah Allah akan berkehendak demikian pada Palestina? Wallaahu A’lam Bis Shawab… Allah Maha Berkehendak*

Jadikan rumah sebagai tempat peristirahatan terakhir setelah seharian beraktifitas di luar. Siapakah yang berwenang menciptakan rumah sebagai istana juga surga? Yang jelas bukan hanya Ayah, Ibu, atau anak apalagi pembantu. Semua komponen keluarga harus saling bahu membahu. Cobalah formula di bawah ini :

- Ayah

Jadilah kepala keluarga yang baik, bertanggung jawab, mau mati duluan karena melindungi anak istri, bersedia menjadi pendengar yang baik.. jangan maunya hanya didengarkan saja nanti dianggap otoriter oleh anak istri, tegas, sedikit humoris bolehlah biar percakapan tidak garing saat di meja makan, bisa menjadi teladan yang baik bagi anggota keluarga, dan yang paling penting, mau menghargai dan menghormati istri yang sudah lelah seharian mengurus anak dan rumah, jangan dikira Andalah yang paling lelah, jangan dikira mengurus rumah dan anak itu gampang dan tidak membutuhkan tenaga yang super.

- Ibu

Dibalik kesuksesan seorang pria, berdiri seorang wanita yang menopangnya, makanya jadi Ibu harus kokoh, jangan rapuh. Jadilah koki terhebat di rumah, mau mengurus suami, anak, dan rumah dengan ikhlas, jangan cuma mengandalkan pembantu atau babysitter nanti suami kian tidak betah di rumah, bolehlah bersosialisasi tapi jangan bergosip dan membicarakan hal yang tidak-tidak, ajarilah anak tentang hal-hal yang baik sebagai bekal anak memasuki dunia luar rumah, jika sedang kesal dengan anak janganlah mengeluarkan kata-kata kasar, nanti berakibat seperti Malin Kundang.

- Anak

Sadarlah bahwa Anda ada karena ada ibu dan ayah, makanya hormatilah orangtua, jangan berkata kasar kepada mereka, pergaulilah mereka dengan lemah lembut, jika Anda berbeda pandangan dengan mereka, diskusikanlah hal tersebut agar tak terjadi salah paham, orangtua butuh untuk diperhatikan bukan dibelikan barang yang mahal-mahal, sesekali bolehlah jika ingin membelikan barang mahal, tapi sejujurnya bukan itu yang mereka harapkan, mereka hanya berharap diperhatikan, dipahami maunya apa.

Kalau seluruh komponen keluarga bisa saling bekerjasama, maka terciptalah rumahku, istanaku sekaligus surgaku. Mudah-mudahan Anda  tidak betah berlama-lama di luar rumah :)

Bibidapi

« Newer Posts - Older Posts »